Di Balik Label Jingga, Mengungkap Fakta Parakuat dan Meluruskan Salah Persepsi (Bagian 1)

BOGOR – “Di Balik Label Jingga, Risiko, Manfaat dan Politik Pengaturan Herbisida Parakuat” adalah judul buku yang muncul sejak akhir 2025 lalu. Dari judul tersebut mungkin kalangan umum mungkin hanya akrab dengan kata “herbisida”.

Label jingga (oranye) itu semacam kode atau tanda pada kemasan herbisida atau pestisida yang menunjukkan bahwa produk tersebut termasuk dalam kategori pestisida terbatas. Artinya, produk dengan label ini hanya boleh digunakan oleh pengguna yang memiliki sertifikasi khusus dan biasanya berkaitan dengan tingkat risiko/bahaya yang tinggi.

Secara umum bisa dipahami bahwa herbisida parakuat (parakuat diklorida) adalah racun rumput kontak non-selektif yang bekerja cepat membakar bagian hijau gulma (daun dan batang) sesaat setelah diaplikasikan. Umumnya digunakan untuk persiapan lahan (tanpa olah tanah) karena tidak merusak akar tanaman utama, namun beracun bagi manusia dan lingkungan.

Uraian diatas sebagai pembuka untuk memahami pembahasan tentang buku tersebut. Dalam dunia pangan secara umum, tema pestisida atau herbisida tidak pernah sepi alias ada sisi positip dan negatifnya. “Apakah kita benar-benar memahami alat-alat yang kita andalkan dalam bertani?”. Itu pertanyaan mendasar dari Midzon Johannis, sang penulis buku Di Balik Label Jingga, Manfaat dan Politik Pengaturan Herbisida Parakuat.

Pertanyaan diatas sebagai pembuka agar pemahaman tentang alat bertani, termasuk parakuat, juga secara lengkap dan utuh diterima. Penulis berupaya untuk menghadirkan informasi yang berimbang tentang herbisida berbahan aktif parakuat diklorida terus dilakukan. Dalam konteks itulah buku tersebut lahir. Buku ditulis secara komprehensif menghadirkan fakta berbasis data dan penelitian, mulai dari aspek manfaat, dampak lingkungan, hingga sisi ekonomi dan kebijakan.

Buku setebal 362 halaman yang diterbitkan IPB Press ini pertama kali beredar pada September 2025 dan memasuki cetakan kedua pada awal 2026. Penulis menyelesaikannya dalam waktu lima bulan, berbekal pengalaman hampir 37 tahun berkecimpung dalam dunia herbisida parakuat.

“Saya termotivasi menulis buku ini karena banyak orang belum memahami parakuat secara utuh. Informasi negatif begitu mudah beredar di media digital, padahal tidak semuanya berbasis kajian mendalam,” kata Midzon, saat peluncuran buku tersebut pada awal Februari lalu.

Parakuat banyak dimanfaatkan pada tanaman perkebunan, seperti sawit, karet, kopi dan lain-lain. Di tanaman pangan, parakuat digunakan untuk tanaman padi sawah, padi lahan kering, padi lahan pasang surut dan jagung. Sedangkan di hortikultura, parakuat banyak dimanfaatkan untuk tanaman jagung.

Herbisida parakuat terbukti memberikan manfaat dalam mengendalikan gulma. Namun, sebagaimana bahan kimia lainya, kehadiran herbisida ini tidak luput dari tantangan dan kontroversi. Para penentang secara konsisten memandangnya dari sudut bahaya intrinsik, tapi para pendukung (proponent) menempatkan substansi ini dalam rangka pengelolaan resiko.

“Ibarat dua mata pisau, tetapi yang terpenting adalah pengelolaan risiko yang tepat,” demikian tulis Midzon dalam bukunya. Buku ini berupaya menguraikan secara lengkap dari praktisi sekaligus ditunjang dengan kajian ilmiah agar pengelolaan risiko menjadi seminimal mungkin. [kabarpangan.com]

Sumber: https://www.kabarpangan.com/perspektif/2602474264/di-balik-label-jingga-mengungkap-fakta-herbisida-parakuat-dan-meluruskan-salah-persepsi-bagian-1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *