HA IPB – Agenda peternakan (sapi, ayam, babi, dll) dan Meki Nawipa menyimpan sejumlah catatan khusus. Jauh sebelum menjadi Gubernur Papua Tengah, Meki sebenarnya punya ketertarikan yang besar dalam budidaya ternak. Selain aktivitas pribadi, minat tersebut diperkuat sejak menjadi Bupati Paniai pada era 2018-2023.
Ketika mengunjungi Paniai akhir 2025 lalu untuk menyelesaikan penulisan buku, jejak tersebut masih ada dari pengakuan sejumlah peternak (petani) warga lokal Paniai. Bersamaan dengan program kopi yang digagas Meki, ternak babi dan perikanan air tawar juga sudah digencarkan untuk warga Paniai yang saat itu tergabung dalam Provinsi Papua. Harapannya, agar ekonomi warga 23 distrik di Paniai saat itu bisa meningkat dan tradisi beternak sudah melekat dengan orang asli Papua (OAP).
Saat menjadi Gubernur Papua Tengah, program ternak pun terus dikembangkan Meki Nawipa. Sejak dilantik hingga Juni 2026, laman papuatengahprov.go.id dan sejumlah media memberitakan beberapa aktivitas terkait peternakan dan budidaya perikanan. Sekalipun dalam skala terbatas, tetapi desain secara menyeluruh pun terus dibenahi.
Dalam dialog Satu Tahun Papua Tengah pada Februari 2026 lalu yang dipandu wartawan senior Andy F Noya, program peternakan dan pertanian tidak luput menjadi prioritas pasangan Mege (Meki Nawipa/Gubernur – Deinas Geley/Wagub). Dalam uraiannya, Meki-Deinas menjelaskan perlunya investasi peternakan untuk menopang ekonomi Papua Tengah. Rencana investasi 3.000 ekor babi di Mimika dan beberapa daerah lain, kemudian cold storage menopang perikanan, hingga peternakan sapi terpusat di Nabire menjadi potensi yang dikembangkan.
Menggaet investasi peternakan/perikanan ke Tanah Papua, termasuk Papua Tengah, memang tidak mudah. Pengalaman penulis dalam tim pengembangan kemitraan sapi di Papua Barat dan Papua Barat Daya tahun 2023 lalu memang tidak mudah. Namun, bukan berarti tidak bisa diwujudkan.
Investasi dan pengembangan ternak harus tetap dilakukan agar tidak semata-mata bergantung pada dana perimbangan (APBD) ataupun dana otonomi khusus, tapi fokus pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari optimalisasi potensi sumber daya alam.
“Arah kebijakan pembangunan tahun ini akan difokuskan pada sektor hilirisasi perikanan, perkebunan rakyat dan peternakan modern,” kata Meki Nawipa dalam dialog tersebut.
Pada pertengahan Mei 2026 lalu, Pemprov Papua Tengah menjalin kerja sama strategis dengan Institut Pertanian Bogor/IPB (saat ini disebut dengan IPB University). Kerja sama ini mendorong penguatan dan sinkronisasi program pembangunan di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
Kerja sama itu, kata Meki, merupakan bagian dari komitmen Pemprov Papua Tengah mendukung program prioritas nasional di bidang ketahanan pangan dan penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Di balik ini, tidak banyak yang tahu bahwa Meki Nawipa dan IPB University, tepatnya di Kampus Dramaga-Bogor menyimpan cerita menarik. Laboratorium Kandang Fapet IPB Dramaga menjadi saksi dalam perjalanan hidupnya. Di tengah himpitan ekonomi, seorang dosen Fakultas Peternakan (Fapet) membantu Meki dan satu rekannya juga dari Papua.
“Tugas kami merawat ternak dan kandang yang biasa dipakai praktek mahasiswa. Saya kebagian di kandang babi yang paling ujung dekat sungai,” kenang Meki saat bertemu di Nabire.
Di kandang sepi dekat sungai dan ujung kampung itulah, Meki tidak perlu bayar uang kontrakan, tapi mendapatkan sedikit uang dan pasokan makanan (bekal bulanan). Tapi dari sinilah tekadnya untuk maju semakin tidak terbendung.
Dalam sebuah percakapan telepon dari warung telekomunikasi (wartel) di Bogor dengan saudaranya di Paniai saat itu, Meki bercanda sambil mengatakan dirinya sudah makin paham soal ternak dan siap-siap bangun peternakan di Papua. Meski akhirnya pindah mengikuti sekolah pilot, pengalamaan di kandang Fapet IPB dan candaan itu semoga bisa terwujud dalam program-program peternakan di Papua Tengah saat ini. [dikutip dari kabarpangan.com/Heri SS]
