HA IPB – Sawahita Group sebagai perintis mi instan dan mi telor dengan bahan baku singkong serta umbi-umbian mempertegas visi kemerdekaan pangan. Ratusan ribu karton mi sudah diproduksi dengan merek sendiri maupun kerja sama (maklon) merek bersama sejumlah mitra.
Fajar Kurniawan selaku Direktur Utama Sawahita Group mengatakan pihaknya sudah mengembangkan mi instan dan mi telor dari bahan baku singkong dan umbi umbian lain. Pengembangan itu dilakukan dengan membuat merk sendiri yaitu Miesami yang sudah diproduksi sekitar 10.000 karton sebagai tahap awal.
“Kami memulai dari bawah dan perlahan terus berkembang untuk memperluas konsumsi tepung mocaf (modified cassava flour). Tekad kami mengoptimalkan bahan baku singkong tersebut karena visi dari Sawahita Group adalah mewujudkan Indonesia merdeka pangan,” ujar Fajar.
Selain merek sendiri, Sawahita juga menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak untuk produksi dengan merek lain (maklon). Pola tersebut dimungkinkan sejauh bahan baku lokal masih menjadi prioritas. Saat ini sudah membangun kemitraan dengan lembaga keagamaan, lembaga Pendidikan (sekolah, dll), kelompok masyarkat, pemerintah daerah, dan berbagai komunitas lainnya.
“Dari kolaborasi tersebut setidaknya sudah produksi lebih dari 500.000 karton mi dengan bahan baku antara 30-50 ton tepung mocaf per bulan. Ini perjalanan yang tidak mudah dan terus membuka diri agar semakin banyak dukungannya,” ujar jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB University) ini.
Dia menjelaskan dari kolaborasi lalu muncul sejumlah merek seperti MieMu (kerja sama dengan Muhammadiyah), Mie Minangkabau (komunitas pebisnis Minangkabau), Mie Siak (dengan pengusaha Kabupaten Siak, Riau), Mie Haji yang bekerja sama dengan Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI).
“Kolaborasi didasari semangat menyediakan pangan sehat untuk masyarakat. Pola ini harus terus dikembangkan sebagai gerakan bersama mewujudkan nasionalisme. Kami masih membuka diri untuk memperluas kemitraan karena semakin banyak produksi maka makin banyak pihak dan masyarakat yang diberdayakan,” jelas Fajar yang berbasis di Sragen, Jawa Tengah.
Upaya mendorong nasionalisme pangan lokal juga menjadi perhatian banyak sejak beberapa dekade silam. Mulai dari kajian-kajian hingga implementasi program pemberdayaan dalam skala mikro.
Guru besar Universitas Jember yang juga penemu mocaf Prof Dr Achmad Soebagio pernah menulis sebuah jurnal penelitian berjudul Mencari Ikon Pergerakan Nsaionalisme Pangan Indonesia.
Dalam jurnal yang terbit pada tahun 2009 itu menguraikan keterpurukan yang dialami bangsa Indonesia semakin parah (mendalam) karena menurunnya rasa bangga pada tanah air, termasuk di bidang pangan.
Achmad Soebagio yang juga Wakil Ketua Umum DPP Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) 2020-2026 mengulas peningkatan rasa nasionalisme pangan Indonesia dengan mencari bahan-bahan lokal sebagai ikon pergerakan. Adapun persyaratan utama menjadi ikon pergerakan nasionalisme adalah suatu makanan haruslah berupa bahan pangan yang secara tradisional telah ada di Indonesia, memenuhi persyaratan gizi yang baik, dan dapat diusahakan secara komersil. [PR/kabarpangan.com]
