Di Balik Label Jingga, Perlunya Edukasi Bukan Ditolak Tapi Tetap Dikonsumsi (Bagian 2)

BOGOR – Buku “Di Balik Label Jingga, Risiko, Manfaat dan Politik Pengaturan Herbisida Parakuat” terdiri dari 15 Bab yang secara rinci menguraikan secara lengkap terkait herbisida parakuat. Midzon Johannis menyebutkan buku yang ditulisnya itu mengemukakan terbagi dalam lima bagian. Kalau membaca sepintas, buku tersebut cukup lengkap menguraikan dari berbagai sisi. Mulai dari tantangan dunia pertanian, risiko dan bahaya kesehatan, kajian dan bukti-bukti lapangan, manfaat, kontribusi ekonomi, politik atau kebijakan hingga pengelolaan risiko yang direkomendasikan.

Aliansi Stewardship Herbisida Terbatas (Alishter) yang menggelar bedah buku tersebut mengakui pemahaman yang belum utuh dan masih banyak salah persepsi. “Setiap turun ke lapangan dan bertemu petani, saya masih menemukan informasi yang tidak seimbang tentang parakuat,” ujarnya Ketua Umum Alishter, Mulyadi Benteng.

Kalau para pengguna atau petani saja belum paham utuh, bagaimana dengan orang awam? Untuk itulah Alishter aktif menggelar pelatihan setiap tahun di seluruh Indonesia sehingga

Ia menegaskan, peran pestisida dalam mendukung produksi pertanian masih sangat signifikan. Secara umum, pestisida/herbisida memiliki risiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Karena itu, pemerintah mengatur perizinan, peredaran, serta penggunaannya agar tetap sesuai prinsip pertanian berkelanjutan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2019.

Masing-masing bagian buku tersebut diuraikan Midzon secara rinci sehingga sangat diperlukan diskursus dalam mempertajam pemahaman tentang herbisida. Langkah ini sangat penting karena menghadirkan sisi negatif tanpa argumen berbasis kajian ilmiah juga sulit untuk mendapatkan titik temu. Publik jangan hanya disodori kontroversi, melainkan berlandaskan data, regulasi, dan tanggung jawab bersama demi pertanian Indonesia yang berkelanjutan.

Objektivitas dalam penilaian itulah menjadi landasan untuk melihat apa saja yang perlu diperbaiki. Disinilah pentingnya pengelolaan risiko yang ditunjang dengan kebijakan yang memadai. Tanpa bermaksud untuk berpihak, tetapi ketika argument yang “setara” justru menjadi bagian yang penting dalam edukasi tentang pangan.

“Jangan sampai seperti isu transgenik yang sepertinya ditolak, tapi konsumsi tetap jalan terus,” ujar Midzon saat diskusi dengan kabarpangan.com belum lama ini.[kabarpangan]

Sumber: https://www.kabarpangan.com/perspektif/2602474292/di-balik-label-jingga-perlunya-edukasi-bukan-ditolak-tapi-tetap-dikonsumsi-bagian-2-habis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *